Nemu artikel tentang jepang….kopi paste..he..he…

sumber : http://agustian.wordpress.com/2008/09/17/mobil-taksi-bersopir-dua/

————————————————

Mobil taksi bersopir dua

By : Y. Agustian

Taksi bersopir dua? Ya, taksi ini memang bersopir dua, satu mobil taksi tapi supirnya dua orang. Taksi ini bukan taksi umum seperti yang sering kita lihat atau kita tumpangi seperti di kota Jakarta atau di kota lainnya. Taksi ini disediakan bagi penumpang yang bepergian memakai mobil atau kendaraan. Lho? Orang bepergian pakai kendaraan atau mobil kok sewa taksi? Bingung kan?..he..he..

Jadi begini, taksi ini memang ada dua sopir, mobilnya sendiri tampak seperti mobil taksi pada umumnya. Stir-nya pun satu, tidak seperti gambar karikatur di atas. Atuh gimana kalau stirnya ada dua mah, ntar kalo mau belok bisa rebutan, belum kalau sopir yang satu pengen belok sementara yang satunya pengen lurus bisa berantem atau tabrakan,..he..he…dibahas..

Taksi-taksi seperti ini banyak di jumpai di Jepang di depan kedai minum, bar, snack dan tempat-tempat sejenisnya. Dari sisi tarif, taksi ini lebih mahal dari pada taksi biasa, karena tarif mengantarkan mobil termasuk di dalamnya. Lho?……Ya, Taksi ini diadakan khusus bagi mereka yang teler karena bermabuk-mabukan di suatu tempat, bar misalanya, untuk diantarkan pulang ke rumahnya, sementara mobil yang dipakainya untuk sampai ke bar sebelum dia teler, akan dipakai oleh supir yang satu-nya lagi itu. Jadi sebetulnya taksi ini diadakan untuk menghindari kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan oleh the drunken driver .

Di Jepang sendiri pelanggaran terhadap aturan yang tidak membolehkan menyetir dalam keadaan mabuk akan mendapatkan sanksi yang sangat berat, seberat beratnya akan dikenai denda sekitar 500 ribu yen atau masa kurungan penjara 5 tahun, SIM dicabut dan tidak boleh menyetir selama 5 tahun. Pada umumnya orang Jepang tidak mau mengambil resiko ini, mereka lebih memilih aman dan tidak beresiko dengan menyewa taksi ini, diri dan mobil pun selamat sampai rumah kalau mau bermabuk-mabukan di bar. Atau pergi ke bar waza-waza tidak menggunakan mobil atau kendaraan bermotor.

Dari beberapa razia yang dilakukan oleh polisi, angka kasus menyetir sambil mabuk ini sangat kecil di Jepang. Ini adalah bukti kesadaran orang-orang Jepang akan bahaya menyetir sambil mabuk dan taatnya terhadap peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan beserta sanksi-sanksinya. Kita ketahui untuk mendapatkan SIM di Jepang, sangat sulit. Untuk itu mereka tidak akan bertindak bodoh, sehingga menyebabkan SIM-nya dicabut dan tidak mendapat izin untuk menyetir mobil untuk satu masa tertentu. Kalau salah seorang dari rekan-rekan pernah merasa gembira karena menjadi juara 1 perlombaan panjat pinang pas 17 agustusan, mungkin seperti itulah rasanya orang bergembira karena mendapat SIM Jepang. Haru, gembira, mencucurkan air mata, kalau perlu nyembeleh kambing undang tetangga untuk ajak makan-makan buat syukuran…he..he…. Yang jelas berbeda dengan jaman dulu, duluuuu bangeet, tatkala mendapatkan SIM di Bandung (nggak tau sekarang…). Datar, lurus, tak berperasaan, boro-boro menitikan air mata yang ada malah cengengesan ) , karena dari awal sudah tahu bakalan dapet tuh SIM.

Satu lagi kita bisa belajar dari masyarakat Jepang. Masyarakat Jepang sangat patuh aturan. Patuh pada aturan bukan karena dilihat oleh pihak berwajib, tapi dilandasi kesadaran kenapa ada suatu aturan tersebut, termasuk akan bahaya-bahaya yang ditimbulkan apabila melanggarnya. Pendidikan sejak dini mengnai keharusan mantaati peraturan, mungkin bisa jadi penyebab orang Jepang sangat patuh pada aturan. Hal ini dialami oleh anak-anak saya yang berada di sebuah play group. Mereka dari awal sudah diperkenalkan dengan rambu-rambu lalulintas, cara berjalan yang baik di trotar dan lain sebagainya. Tidak jarang pihak sekolah mengundang dengan sengaja seorang polisi untuk memberi penerangan secara langsung kepada anak-anak. Program yang sangat bagus untuk mensosialisasikan sosok polisi sebagai pengayom masyarakat dan bukan sosok menegangkan dan menakutkan dengan atribut-atrbut negatif yang disandangnya seperti gambaran polisi  di sebuah negeri antah berantah )

Seperti yang pernah di tulis oleh Mas Romi dalam 10 Resep Sukses Bangsa Jepang, taat peraturan ini mungkin bisa dihubungkan dengan sifat orang jepang yang lain : Malu. Orang jepang akan malu sama orang lain apabila terlihat di depan umum melanggar aturan. Atau bahkan menjadi poin tersendiri, bahwa resep sukses orang jepang adalah salah satunya : Taat aturan. Kalau begitu, Mas Romi izinkan saya menambahkan..he..he.